rencana.jpgHal yang harus diketahui oleh perusahaan ketika akan melakuan revaluasi aset tetap yaitu

  1. Kondisi perusahan dalam keadaan laba atau rugi?

Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi jumlah pajak yang dibayarnya. Apabila perusahaan mengalami untung maka perusahaan harus menghitung berapa pajak yang dikenakan apabila melakuan revaluasi dan berapa pajak apabila tidak melakuan revaluasi.

  1. Jika laba, berapa labanya? Apakah sudah mencapai lapisan kena pajak dengan tarif tertinggi?

Dalam PPh badan terdapat beberapa lapisan tarif yaitu 12,5% dan 25%. Apabila penghasilan bruto kurang dari 50 miliar maka perusahaan dikenakan tarif pph badan pasal 25 dengan tarif 12,5% namun apabila penghasilan bruto lebih dari 50 miliar maka perusahaan dikenakan tarif pph badan pasal 25 dengan tarif 25%. Hal ini harus diperhitungkan untuk dibandingkan dengan tarif pph final revaluasi aset yaitu sebesar 10% (yang kemudian diubah dengan tarif 3%-6%).

  1. Jika rugi, kapan rugi terjadi Tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya? Kapan batas akhir kompensasi kerugian?

Kapan terjadi rugi menentukan apakah nilai rugi itu lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan laba tahun berjalan. Kalau rugi itu terjadi sudah lima tahun maka bagaimana perbandingannya dengan selisih revaluasi aset. Untuk lebih jelasnya akan dibahas disaat perhitungan.

  1. Bagaimana dampak revaluasi terhadap beban pajak tahun berjalan dan tahun-tahun yang akan datang?

rencanaa.jpgJika menggunakan nilai revaluasi tentu akan mempengaruhi beban depresasi. Apabila mempengaruhi beban atau biaya maka akan mempengaruhi pada laba. Jika laba berubah maka pajakpun akan berubah. Olehkarena itu perlu diperhitungkan berapa laba yang akan dicapai jika nilai depresiasi berubah.

 

Contoh Soal

  1. Armelia pada tahun 2017 membeli aset tetap berupa mesin dengan harga perolehan Rp. 400.000.000. Mesin tersebut termasuk dalam aset kelompok 2 dan selama ini perusahaan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Pada awal tahun 2020 berdasarkan penilaian dari perusahaan jasa penilai yang diakui oleh pemerintah, nilai wajar dari mesin sebesar Rp. 600.000.000. Apakah perusahaan sebaiknya melakukan revaluasi?

Jika kondisi perusahaan diasumsikan sebagai berikut

  1. Perusahaan tidak mempunyai rugi fiskal
  2. Tahun 2015 perusahaan mengalami rugi fiskal sebesar Rp. 1.000.000.000 dan sampai tahun 2007 baru sebesar Rp. 500.000.000 yang dikompensasikan dan laba tahun berjalan diprediksi Rp. 200.000.000

 

Jawaban

Jika dilakukan revaluasi

Harga perolehan mesin            Rp. 400.000.000

Akumulasi penyusutan            Rp. 150.000.000

Nilai buku mesin                     Rp. 250.000.000

Nilai revaluasi                         Rp. 600.000.000

Selisih lebih revaluasi              Rp. 350.000.000

Catatan:

Harga perolehan dan nilai revaluasi diketauhi disoal.

Akumulasi penyusutan dihitung dari

Rp. 400.000.000 x 12,5% (Tarif garis lurus kelompok 2)= 50.000.000/tahun. Karena sudah berjalan 3 tahun maka akumulasi penyusutannya adalah Rp. 50.000.000 x 3 tahun = 150.000.000

Nilai buku meisn dihitung dari Harga perolehan – Nilai buku mesin atau Rp.400.000.000 – Rp. 150.000.000 = Rp. 250.000.000

Selisih lebih revaluasi dihitung dari Nilai revaluasi – Nilai buku mesin atau Rp. 600.000.000 – Rp. 250.000.000 = Rp. 350.000.000

Kondisi perusahaan laba

AKTIVA TETAP NILAI BUKU NILAI REVALUASI SELISIH REVALUASI
Mesin     250.000.000  600.000.000                350.000.000
     
PPh Final 10%     35.000.000

Catatan:

Nilai buku berasal dari nilai buku pada perhitungan sebelumnya

Nilai revaluasi berasal dari soal

Selisih revaluasi yaitu Nilai revaluasi – Nilai buku atau Rp. 600.000.000 – Rp. 250.000.000 = Rp. 350.000.000

PPh Final 10% didapatkan dari Selisih revaluasi x 10% = Rp. 35.000.000

  Revaluasi Tidak revaluasi
Laba 200.000.000            200.000.000
Penyusutan Mesin  75.000.000              50.000.000
Penghasilan Kena Pajak 125.000.000            150.000.000
PPh badan 25%     31.250.000              37.500.000

Catatan:

Laba berasal dari soal

Penyusutan mesin didapatkan dari harga perolehan/ harga revaluasi dikali dengan tarif. Untuk revaluasi didapat dari 600.000.000 x 12,5% sedangkan untuk tidak revaluasi didapatkan dari 400.000.000 x 12,5%

Penghasilan kena pajak didapatkan dari laba dikurang dengan penghasilan kena pajak

PPh badan 25% didapatkan dari PKP x 25%.

Apabila didapatkan berapa pajak terutang untuk PPh badan dan PPh final maka kita bandingkan untuk memilih apakah perusahaan melakukan revaluasi aset atau tidak. Berikut disajikan berbentuk tabel untuk memudahkan.

PPh Final 10% PPh Badan 25%
Revaluasi 35.000.000
Tidak Revaluasi 37.500.000

Dari tabel diatas kita dapat melihat berapa beban yang harus kita bayar apabila kita menggunakan revaluasi dan berapa yang harus kita bayar apabila kita tidak melakukan revaluasi. Dari tabel diatas diketahui bahwa pajak untuk melakukan revaluasi lebih rendah dibandingkan dengan apabila perusahaan tidak melakukan revaluasi. Sehingga kita seharusnya memilih melakukan revaluasi dengan menghemat sebesar 2.500.000.

Kondisi perusahaan rugi

rencanaaa.jpgApabila perusahaan dalam kondisi rugi maka laba tahun berjalan bisa dijadikan pengurang kompensasi ditahun sebelumnya selama masih belum lima tahun. Dalam soal karena tahun 2020 adalah tahun kelima maka ditahun 2021 tidak lagi laba bisa dikompensasikan. Apabila seperti itu maka perusahaan akan merugi sebesar 300 juta karena sisa 300 juta itu tidak bisa dikompensasikan atau hangus. Berikut tabelnya

Tahun ke Laba Saldo Rugi
2015     (1.000.000.000)
2016      80.000.000       (920.000.000)
2017    100.000.000       (820.000.000)
2018    150.000.000       (670.000.000)
2019    170.000.000       (500.000.000)
2020    200.000.000       (300.000.000)

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sisa saldo rugi yang bisa dikompensasikan adalah sebesar 500 juta. Saat ini berada ditahun 2020 sehingga tahun 2020 adalah tahun terakhir perusahaan bisa mengkompensasikan kerugian. Apabila laba tahun berjalan adalah 200 juta maka 300 juta sisa saldo rugi akan hangus karena pada tahun 2021 berapapun labanya maka itu menjadi dasar pengenaan pajak sehingga apabila perusahaan tidak melakukan revaluasi akan mengalami kerugian senilai 300 juta. Berbeda halnya apabila perusahaan melakukan revaluasi maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan yaitu membayar pajak dari dasar pajak yang rendah. Berikut tabelnya

Tahun ke Laba Saldo Rugi
2015     (1.000.000.000)
2016      80.000.000       (920.000.000)
2017    100.000.000       (820.000.000)
2018    150.000.000       (670.000.000)
2019    170.000.000       (500.000.000)
2020    200.000.000       (300.000.000)
Revaluasi    350.000.000            50.000.000

Jika kita melakukan revaluasi aset ketika perusahaan dalam keadaan rugi maka perusahaan tidak perlu membayar PPh final. Namun apabila keadaan perusahaan ternyata untung setelah perusahaan melakukan revaluasi aset maka perusahaan hanya perlu dikenakan PPh badan pasal 25. Dari tabel diatas dapat dilihat baha perusahaan hanya perlu membayar PPh badan 25% x 50.000.000 = Rp. 12.500.000. Ini lebih rendah daripada harus kehilangan 300 juta karena tidak bisa dikompensasikan lagi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa apabila kondsi perusahaan rugi dengan kondisi seperti ini maka sebaiknya perusahaan memilih untuk melakukan revaluasi aset.

 

Tarif PPh final revaluasi aset baru

Pada tahun 2015 Menteri Keuangan menegeluarkan peraturan bernomor 191/2015 mengenai tarif baru PPh final untuk revaluasi. Berikut adalah intisari dari peraturannya. Perubahan dari asalnya 10% menjadi 3%-6%.

  • 3% untuk permohonan sampai 31 Desember 2015 dan revaluasi selesai paling lambat 31 Desember 2016
  • 4% untuk permohonan periode 1 Januari 2016 sampai dengan 30 Juni 2016 dan revaluasi selesai paling lambat 30 Juni 2017; atau
  • 6% untuk permohonan periode Juli 2016 sampai dengan 31 Desember 2016 dan revaluasi selesai paling lambat 31 Desember 2017

 

∞∞∞

Iklan