plan.jpgPerbandingan memiliki arti mendatangkan pilihan terdiri dari dua atau lebih untuk dipilih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dalam perencanaan pajak perbandingan mencari satu alternatif dari beberapa alternatif agar pajak terutang wajib pajak menjadi kecil. Metode memiliki arti cara atau jalan yang ditempuh. Apabila dikatakan metode pembelajaran maka hal itu memiliki arti jalan yang ditempuh dalam melakukan pembelajaran. Dalam KBBI penyusutan memiliki arti proses, cara, perbuatan menyusutkan, sedangkan dalam akuntansi penyusutan memiliki arti alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi (PSAK 17). Jadi perbandingan metode penyusutan adalah mendatangan pilihan dalam hal cara melakukan alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan yang kemudian nantinya akan dipilih. Oleh karena itu setelah belajar perbandingan metode penyusutan kita bisa menentukan metode penyusutan mana yang akan kita pergunakan yang sesuai dengan tujuan perusahaan kita.

 

Pengertian Penyusutan

PSAK 17 menyebutkan pengertian depresiasi adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi.

plann.jpgDari pengertian itu kita bisa menyebutkan bahwa yang namanya depresiasi itu merupakan sebuah “perkiraan” yang dilakukan oleh pencatat (akuntan/staff keuangan/manajer/owner) dalam melakukan penyusutan nilai suatu aset. Mengapa dikatakan “perkiraan”? karena dalam pengertian yang dikeluarkan oleh IAI penyusutan merupakan estimasi sehingga dipastikan penyusutan adalah perkiraan. Apa alasannya penyusutan itu hanya sebuah perkiraan? Alasannya adalah pada kenyataannya jika kita bayangkan mobil yang termasuk kedalam aset ketika masa manfaatnya habis maka mobil itu tetap bernilai meskipun sudah tidak bisa digunakan lagi untuk dijadikan alat transportasi. Minimal kita sebagai yang punya mobil bisa menjualnya sebagai barang rongsok dan kita mendapatkan uang dari itu. Makanya kenapa dalam akuntansi ada yang namanya nilai buku. Secara singkat nilai buku itu berarti nilai yang tertera dalam pencatatan akuntansi. Padahal kenyataannya nilai kenyataan atau nilai wajar bisa lebih besar dari nilai buku yang mengakibatkan kita mengakuinya sebagai keuntungan dan bisa juga nilai wajar lebih kecil dari nilai buku yang kita mengakuinya sebagai kerugian.

Sekarang kita lihat bagaimana pajak mendefinisikan penyusutan. Kita bisa menemukannya di UU PPh            atau undang-undang nomor 36 tahun 2008 pada pasal 9 ayat 2 yang mendefinisikan penyusutan sebagai berikut,

Pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan sekaligus melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi.

Dalam pengertian diatas disebutkan cara untuk mendapatkan “sesuatu” yang dapat memberikan manfaat yang usia “sesuatu” itu lebih dari satu tahun. Dalam akuntansi “cara mendapatkan” itu disebut dengan harga perolehan. Harga perolehan adalah harga yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan aset sampai aset itu bisa digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan yang bisa mendatangkan manfaat. Dari pengertian diatas juga kita bisa membuat kesimpulan bahwa yang termasuk aset menurut pajak yaitu yang memiliki indikator sebagai berikut,

  1. Bisa mendatangkan manfaat
  2. Bisa dimanfaatkan untuk menagih penghasilan
  3. Bisa digunakan untuk memelihara penghasilan
  4. Memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun

Semua karakteristik aset sesuai dengan akuntansi pada nomor 1 sampai dengan 3. Namun untuk nomor 4 dalam akuntansi meskipun masa manfaatnya kurang dari satu tahun tetap dilakukan depresiasi yang digolongkan kedalam beberapa golongan. Hal ini merupakan celah pajak dimana kita harus bisa meminimalkan aset yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun agar kita bisa membebankannya sehingga pendapatan akan kecil, pajak akan kecil; tetapi kita bisa juga memanfaatkan celah itu dalam menyiasati rugi.

 

Masa Manfaat

Terdapat perbedaan menilai masa manfaat. Jika dalam akuntansi ditentukan terlebih dahulu masa manfaatnya kemudian dicari berapa penyusutannya, sedangkan dalam pajak ditentukan masa manfaatnya kemudian dikelompokkan dan mau tidak mau disusutkan berdasarkan tarif yang sudah ditetapkan oleh fiskus. Berikut adalah masa manfaat menurut akuntansi dalam SAK nya

  1. Berdasarkan taksiran umur ekonomis maupun umur teknis
  2. Ditelaah ulang secara periodik
  3. Nilai residu bisa diperhitungkan

Dalam akuntansi suatu aset akan ditaksir dulu berapa umur ekonomisnya dan umur teknisnya. Hal ini memungkinkan adanya perbedaan menghitung nilai ekonomisnya. Namun hal ini diperbolehkan selama perusahaan konsisten dalam melakukan penyusutan dan biaya penyusutan. Olehkarena adanya kemungkinan perbedan penaksiran maka secara periodik akan ditelaah ulang. Maksud dari telaah ulang ini adalah apakah masih tetap relevan mesin yang ada diruang produksi itu berumur ekonomis 5 tahun? Apabila pada tahun ketiga ternyata tidak pernah mengalami kerusakan maka mungkin nilai ekonomisnya akan berubah yang nantinya akan mengubah beban depresiasi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Selain ditelah ulang umur ekonomisnya, hal yang dapat terjadi yaitu penilaian kembali aset atau revaluasi aset. Revaluasi aset ini adalah melakukan penilaian yang sesungguhnya berapa nilai dari suatu aset itu. Contohnya adalah suatu mesin pada tahun ketiga memiliki nilai buku sebesar 800 juta kemudian perusahaan menghitung kembali karena mesin itu sudah jelek dan sudah sering rusak. Setelah dilakukan penilaian kembali ternyata nilai wajar dari mesin itu adalah 500 juta. Olehkarena itu nanti akan ada jurnal kerugian, dan perbedaan biaya depresiasi.

Adapun masa manfaat menurut pajak yaitu,

  1. Ditetapkan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan
  2. Nilai residu tidak diperhitungkan

Hal yang paling mendasar tarif yang didasarkan kepada masa manfaat suatu aset yaitu apabila dalam akuntans dihitung masa manfaatnya terlebih dahulu kemudian dihitung berapa nilai depresiasinya, dalam pajak tugas kita hanyalah menghitung masa manfaatnya kemudian kita lihat termasuk kedalam kategori berapa kemudian berapa tarifnya. Hal lain yang berbeda yaitu mengenai nilai residu dimana nilai residu tidak diperhitungkan sehingga kita bisa memanfaatkan celah hukum ini untuk kepentingan perusahaan. Cara memanfaatkannya adalah dengan cara ketika suatu aset itu habis masa manfaatnya kemudian kita menjual aset itu maka perusahaan bisa untuk tidak memasukkannya sebagai pendapatan dengan alasan pendapatan itu bukan berasal dari kegiatan utama perusahaan.

 

Harga perolehan

Dalam akuntansi harga perolehan memiliki beberapa kondisi yaitu

  1. Pembelian: harga sesungguhnya

Suatu aset itu didapatkan dengan cara melakukan pembelian. Dalam akuntansi tidak dibahas apakah pembelian itu termasuk pembelian hubungan istimewa atau tidak. Apabila suatu aset itu didapatkan dengan cara membeli maka harga perolehan adalah harga yang sesungguhnya atau harga transaksi pembelian itu.

  1. Pertukaran tidak sejenis: harga wajar

Kondisi kedua adalah apabila kita mendapatkan aset itu dengan cara melakukan pertukaran. Ada dua pertukaran yang memungkinkan terjadi, pertama adalah pertukaran yang tidak sejenis dan kedua adalah pertukaran yang sejenis. Apabila terjad pertukaran yang tidak sejenis misalkan kita memiliki mesin kemudian kita tukar dengan mobil truk maka harga yang kita masukkan sebagai harga perolehan adalah harga wajar dari mobil truk itu dan mesin yang kita miliki. Nantinya akan muncul kerugian atau keuntungan dari pertukaran mesin sebagaimana dibahas lebih dalam dikelas akuntansi.

  1. Pertukaran sejenis: nilai buku

Kondisi pertukaran yang kedua yaitu pertukaran sejenis. Apabila hal ini terjadi maka yang digunakan adalah nilai buku. Contoh pertukaran sejenis itu adalah pertukaran antara mesin yang sudah lama kita miliki dengan masih baru. Harga perolehan yang dicatat yaitu berdasarkan nilai buku.

  1. Aset sumbangan: harga pasar

Kondisi terakhir yaitu kita bisa mendapatkan suatu aset karena adanya sumbangan dari pihak luar. Apabila hal ini kita hadapi maka kita mencari harga pasar dari aset yang kita terima itu kemudian harga itu menjadi harga perolehan yang nantinya akan dilakukan penyusutan.

Berbeda dengan akuntansi, pajak dalam menila suatu harga perolehan berdasarkan hal-hal berikut ini,

  1. Tidak mempunyai hubungan istimewa: harga sesungguhnya

Apabila membeli aset dengan pihak diluar hubungan istimewa maka harga yang digunakan adalah harga yang sesungguhnya atau harga transaksi.

  1. Transaksi hubungan istimewa: harga pasar

Apabila kita membeli kepada kantor pusat (induk perusahaan) atau sesama kantor cabang atau hubungan istimewa lainnya maka harga perolehan yang kita akui adalah harga pasar bukan harga transaksi. Mengapa demikian? Karena harga transaksi kemungkinan besar akan lebih rendah harganya dibandingkan dengan harga pasar. Olehkarena itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pajak hanya menginginkan harga perolehan yang tinggi.

  1. Transaksi tukar: harga pasar

Dalam pajak tidak ditentukan apakah tukar itu barang yang sejenis atau tidak sejenis. Dalam pajak apabila kita melakukan transaksi tukar maka yang digunakan untuk dijadikan dasar untuk mencari penyusutan adalah dengan menggunakan harga pasar.

  1. Likuidasi, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau penggabungan: harga pasar kecuali ditentukan lain Menkeu

Apabila terjadi salah satu sebab diatas maka menggunakan harga pasar bukan harga buku karena harga pasar lebih besar daripada harga buku. Namun apabila ada ketentuan dari Menteri Keuangan ketika melakukan likuidasi tentang harga aset maka yang digunakan adalah ketentuan dari Menteri Keuangan. Misalkan penggabungan 14 bank menjadi bank mandiri. 14 bank kecil yang digabungan itu ditentukan oleh Menteri Keuangan tentang berapa harganya.

  1. Revaluasi: nilai setelah revaluasi

Revaluasi adalah penilaian kembali suatu aset. Kemungkinannya ada dua, nilai aset lebih besar dari nilai buku atau nilai aset lebih kecil dari nilai buku. Kedua kondisi ini yang menjadi dasar dalam menentukan harga perolehan adalah nilai setelah revaluasi yang paling akhir karena mungkin saja kita melakukan revaluasi aset lebih dari satu kali. Perencanaan pajaknya adalah apabila nilai bukunya lebih besar kita bisa menggunakan hasil revaluasi itu tetapi setelah dilakukan revaluasi ternyata nilai asetnya menjadi kecil maka revaluasi itu tidak kita gunakan dan tidak kita laporkan kepada fiskus.

 

Metode Penyusutan

plannn.jpgDalam akuntansi ada beberapa metode penyusutan yang bisa dipergunakan. Kesemua metode itu bisa kita gunakan selama ada dalam Standar Akuntani Keuangan (SAK), namun pada praktiknya perusahaan menyamakan metode penyusutan dengan yang diperbolehkan oleh pajak. Berikut adalah metode penyusutan yang diakui oleh akuntansi,

  1. Garis lurus

Metode ini dicari dengan rumus harga perolehan dikurangi dengan nilai residu kemudian dibagi dengan nila ekonomis. Untuk garis lurus ini kita menghitung depresiasi hanya satu kali karena setiap tahunnya nilainya sama sampai dengan masa manfatnya habis. Namun ada perbedaan yang mendasar mencari metode garis lurus dalam akuntansi dan dalam pajak.

  1. Jumlah angka tahun

Ini tidak dibahas karena sedang membahas pajak.

  1. Saldo menurun/menurun ganda

Dalam akuntasi metode saldo menurun dihitung dengan rumus harga perolehan dikali dengan tarif metode penyusutan. Untuk mencari tarif penyusutan dicari dengan menggunakan rumus [(100%: Umur Ekonomis)x2] x Nilai perolehan/Nilai buku. Setiap tahunnya kita sebagai akuntan akan menghitung berapa biaya penyusutan.

  1. Metode jam jasa

Ini tidak dibahas karena sedang membahas pajak.

  1. Unit produksi

Ini tidak dibahas karena sedang membahas pajak.

  1. Anuitas

Ini tidak dibahas karena sedang membahas pajak.

  1. Sistem persediaan

Ini tidak dibahas karena sedang membahas pajak.

Untuk metode penyusutan yang diakui pajak akan didapatkan dalam Undang-Undang Penghasilan atau Undang-Undang nomor 36 tahun 2008 pada pasal 11 yaitu sebagai berikut

  1. Bangunan: garis lurus

Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah atau perairan. Dalam pajak untuk depresiasi bangunan hanya dikenal satu metode saja yaitu metode garis lurus. Adapun tarifnya akan dijelaskan lebih khusus pada tempatnya.

  1. Bukan bangunan: garis lurus atau saldo menurun ganda

Salah satu karakteristik bangunan yaitu tidak bisa dipindah tempatkan sedangkan suatu aset yang bisa dipindahkan maka digolongkan menjadi bukan bangunan. Dalam pajak yang diakui yaitu menggunakan metode garis lurus dan saldo menurun ganda.

 

Tarif Penyusutan

Tarif penyusutan yang ditetapkan pajak kadangkala berbeda dengan yang dihitung oleh akuntansi. Berdasarkan pajak tarif penyusutannya adalah sebagai berikut yaitu berdasarkan UU Nomor 36 tahun 2008 Pasal 11

BUKAN BANGUNAN MASA MANFAAT
KELOMPOK 1 4 tahun
KELOMPOK  2 8 tahun
KELOMPOK  3 16 tahun
KELOMPOK  4 20 tahun

Untuk cara penggunanya adalah apabila suatu aset itu memiliki masa manfaat 1 tahun sampai dengan 4 tahun maka termasuk kedalam kelompok 1, sedangkan untuk kelompok 2 maka aset itu harus memiliki masa manfaat minimal 5 tahun. Begitu seterusnya. Adapun untuk aset yang termasuk bangunan adalah sebagai berikut,

BANGUNAN MASA MANFAAT
PERMANEN 20 tahun
TIDAK PERMANEN 10 tahun

Cara menentukan bangunan itu adalah permanen atau tidaknya bisa dilihat pada bahan bangunan tersebut. Apabila bangunan tersebut terbuat dari bahan-bahan permanen seperti batu bata, beton dan bahan lainnya maka termasuk kedalam bangunan permanen. Namun apabila bahan bangunannya terbuat dari papan triplex, duplex atau bahan yang bukan permanen maka termasuk kedalam bangunan tidak permanen. Selain itu bisa ditentukan dengan melihat masa manfaatnya. Untuk tarifnya dijelaskan dalam tabel berikut

BUKAN BANGUNAN TARIF PENYUSUTAN
Garis lurus Saldo Menurun
KELOMPOK 1 25% 50%
KELOMPOK  2 12,5% 25%
KELOMPOK  3 6,25% 12.5%
KELOMPOK  4 5% 10%

Setelah diketahui termasuk kedalam kelompok berapa maka cara menghitung penyusutannya diguakan tarif. Dari tarif itulah akan dikatahui berapa beban depresiasi yang harus dibebankan oleh perushaan dalam setahunnya. Untuk mencari depresiasi perbulannya maka hasil dari tarif itu dibagi dua belas bulan. Untuk bangunan tarifnya adalah sebagai berikut

BANGUNAN TARIF PENYUSUTAN
PERMANEN 5%
TIDAK PERMANEN 10%

Contoh Soal

  1. DIRGANTARA mempunyai aktiva berupa peralatan yang diperoleh bulan Januari 2017 dengan harga perolehan Rp. 1.000.000.000,- dengan masa manfaat 4 tahun.

 

Jawaban

Tahun Penyusutan Future value tahun 2020 Tingkat Bunga 10%
Garis Lurus Saldo Menurun Garis Lurus Saldo Menurun
2017 250.000.000 500.000.000 332.750.000 665.500.000
2018 250.000.000 250.000.000 302.500.000 302.500.000
2019 250.000.000 125.000.000 275.000.000 137.500.000
2020 250.000.000 125.000.000 250.000.000 125.000.000
1.160.250.000 1.230.500.000

 

Cara menghitung:

  1. Garis lurus = Harga perolehan x tarif kelompok 1 garis lurus

= 1.000.000.000 x 25%

= 250.000.000

 

  1. Saldo menurun = Harga perolehan x tarif kelompok 1 garis lurus

= 1.000.000.000 x 50%

= 500.000.000 (tahun 2017)

 

= 500.000.000 x 50%

= 250.000.000 (tahun 2018) dan seterusnya

 

  1. Future value garis lurus = Depresiasi (1+i)^n

= 250.000.000 ((1+10%)^3))

= 332.750.000 (tahun 2017)

 

= 250.000.000 ((1+10%)^2)

= 302.500.000 (tahun 2018) dan seterusnya

 

  1. Future value saldo menurun = Depresiasi (1+i)^n

= 500.000.000 ((1+10%)^3))

= 665.500.000 (tahun 2017)

 

= 250.000.000 ((1+10%)^2))

= 302.500.000 (tahun 2018) dan seterusnya

 

Maksud dari dihitung future valuenya adalah karena kita ingin mengetahui berapa nilai yang sudah kita keluarkan untuk beban depresiasi ketika habis masa manfaatnya yaitu pada tahun 2020. Makanya tahun 2020 adalah tahun kenol sedangkan tahun 2017 adalah tahun ketiga. Dari perhitungan diatas diketahui bahwa apabila menggunakan metode saldo menurun maka kita akan memiliki beban depresiasi lebih besar dari pada menggunakan garis lurus sebesar 70.250.000 (1.230.500.000 – 1.160.250.000). Ini berararti dengan beban depresiasi yang besar maka laba akan kecil, jika laba kecil maka pajakpun kecil. Olehkarena itu sebagai manajemen kita menyarankan untuk menggunakan metode saldo menurun dengan alasan biaya yang dibebankan lebih besar dibandingkan garis lurus. Agar lebih meyakinkan kita terapkan pada PPh yang terutangnya dengan perhitungan sebagai berikut,

Tahun Penyusutan Pengurangan PPh Selisih terhadap Saldo menurun
Garis Lurus Saldo Menurun Garis Lurus Saldo Menurun
2017 250.000.000 500.000.000 62.500.000 125.000.000 62.500.000
2018 250.000.000 250.000.000 62.500.000 62.500.000 0
2019 250.000.000 125.000.000 62.500.000 31.250.000 (31.250.000)
2020 250.000.000 125.000.000 62.500.000 31.250.000 (31.250.000)
250.000.000 250.000.000 0

Cara menghitung:

  1. Penyusutan garis lurus dan saldo menurun adalah salinan dari tabel sebelumnya.
  2. Pengurangan PPh Garis lurus tahun 2017 = Beban Depresiasi x tarif PPh

= 250.000.000 x 25%

= 62.500.000 (2017- 2020)

 

  1. Pengurangan PPH Saldo menurun = Beban depresiasi x tarif PPh

= 500.000.000 x 25%

= 125.000.000 (2017)

 

= 250.000.000 x 25%

= 62.500.000 (2018) dan seterusnya

 

  1. Selisih pengurangan PPh = Saldo menurun – gari lurus

= 125.000.000 – 62.500.000

= 62.500.000 (tahun 2017) dan seterusnya

 

Dari tabel diatas secara perhitungan akuntansi untuk pengurang PPh nya sama baik itu garis lurus maupun saldo menurun yaitu sebesar 250.000.000. Secara selisihpun tidak ada bedanya hanya berbeda diawal tahun dimana ketika kita menggunakan metode saldo menurun akan lebih menguntungkan sebesar 62.500.000 namun pada tahun 2019 dan 2020 jika menggunakan saldo menurun akan mengalami kerugian sebesar 31.250.000. Namun akan ada perbedaan apabila kita mencarinya dengan menggunakan metode future value dimana ketika kita sampai pada tahun 2020 (aset masa manfaat habis) kita bisa menghitung berapa sebenarnya pengurangan PPh selama empat tahun. Disajikan ditabel berikut,

Tahun Pengurangan PPh Future value tahun 2018 Tingkat Bunga 10%
Garis Lurus Saldo Menurun Garis Lurus Saldo Menurun
2017 62.500.000 125.000.000 83.187.500 166.375.000
2018 62.500.000 62.500.000 75.625.000 75.625.000
2019 62.500.000 31.250.000 68.750.000 34.375.000
2020 62.500.000 31.250.000 62.500.000 31.250.000
250.000.000 250.000.000 290.062.500 307.625.000

Cara menghitung:

  1. Pengurangan PPh garis lurus dan saldo menurun disalin dari tabel sebelumnya
  2. Future value garis lurus = Pengurangan PPh ((1+i)^3))

= 62.500.000 ((1+10%)^3))

= 83.187.500 (tahun 2017)

 

= 62.500.00 ((1+10%)^2))

= 75.625.000 (tahun 2018) dan seterusnya

 

  1. Future value saldo menurun = Pengurangan PPh ((1+i)^3))

= 125.000.000 ((1+10%)^3))

= 166.375.000 (tahun 2017)

 

= 62.500.000 ((1+10%)^2))

= 75.625.000 (tahun 2018) dan seterusnya

 

Dari tabel diatas kita lebih yakin bahwa saldo menurun merupakan metde penyusutan yang paling efisien yaitu kita bisa menghemat sebesar 17.562.500 (307.625.000 – 290.062.500). Nilai itu berdasarkan pengurangan PPh yang kita cari future value pada tahun 2020. Hal ini akan berbeda apabila terjadi revaluasi aset yang dapat mengubah nilai menjadi lebih tinggi atau lebih rendah.

 

∞∞∞

Iklan