imam.jpegSudah lama sebenarnya kita melakukan shalat namun lamanya kita shalat tidak menjamin bahwa shalat yang kita lakukan sudah sesuai dengan contoh dari Rasulullah saw. Oleh karena itu penting kiranya untuk kita agar selalu belajar khususnya belajar mengenai tatacara shalat agar shalat yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan harapan kita terbesar adalah shalat yang kita kerjakan minimal lima kali dalam sehari itu diterima dan bagus karena amal kita tergantung kepada shalatnya, apabila shalatnya baik maka baik pula semua amalnya namun sebaliknya apabila jelek shalatnya maka semua amalnya jelek.

Ada hal yang sering dilupakan oleh sebagian muslim mengenai shalat berjamaah yaitu pada gerakan. Yang sering aku temukan, termasuk sebenarnya diri aku sendiri ketika shalat berjamaah karena sudah hafal gerakannya maka kadang membarengi gerakan imam atau ketika imam belum selesai memberikan aba-aba kita sudah mengikutinya. Jadi ketika imam baru mengucapkan “Allahu” kita sudah ikut takbir juga. Hal ini sebenarnya keliru. Seharusnya adalah setelah imam selesai mengucapkan “Alluhakbar” maka baru kita mengikutinya. Artinya kita tunggu imam menyelesaikan kalimatnya baru kita mengikutinya.

imamm.jpegAlasan mengapa harusnya kita menunggu imam menyelesaikan “aba-abanya” adalah sebagai berikut. (Seperti biasa aku mengurutkannya dari mulai dari berdasarkan logika sampai alasan terakhir berdasarkan dalil).

  1. Sebuah analogi. Ketika upacara ada perintah dari pemimpin upacara untuk melakukan penghormatan. Pada saat pemimpin upacara mengucapkan “Kepada bendera merah putih, hormat grak.” Sebenarnya ketika pembawa acara membacakan acara “Penghormatan kepada bendera merah putih” kita sudah tahu bahwa kita harus hormat. Tapi apa yang kita lakukan? Kita menunggu aba-aba secara “lengkap” dulu dari pemimpin upacara baru kita melakukan penghormatan. Pertanyaannya sekarang, apakah kita lebih mematuhi pemimpin upacara dari pada imam yang sudah jelas-jelas Allah memerintahkan kepada kita untuk mematuhi imam?
  2. Fungsi imam adalah untuk diikuti. Imam itu sama seperti seorang kepala keluarga disebuah keluarga, seorang presiden disebuah negara, seorang direktur disebuah perusahaan. Fungsi imam, kepala keluarga, presiden dan direktur jelas, untuk diikuti. Jika kita tidak mengikuti perintah pemimpin maka kita telah berkianat kepada pemimpin itu. Ini sudah tau kan kalau tidak boleh dilakukan?
  3. Argumen terakhir adalah berdasarkan dalil. Dalilnya jika dibaca secara sekilas umum namun apabila dimaknai secara mendalam sebenarnya sangat dalam isinya. Mari kita simak beberapa haditsnya. Hadits pertama diriwatkan secara sahih oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihinya. Apabila ia ruku, maka rukulah. Dan bila ia mengetakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah, ‘rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya.”

imammmm.jpegHadits diatas secara umum menjelaskan bahwa seorang imam harus diikuti. Yang dimaksud diikuti adalah setelah “selesai” mengucapkan aba-aba baru diikuti. Dalam hadits diiatas malah lebih dijelaskan ketika imam mengatakan sami’allahu liman hamidah baru kita menjawab rabbana walakal hamdu. Disana disebutkan harus selesai dulu “aba-abanya” baru kita balas. Untuk lebih menguatkan aku cantumin satu hadits lagi. Hadits ini berasal dari Abu Dawud nomor 511 dimana Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan kalian jangan bertakbir sampai ia bertakbir. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah, dan kalian jangan ruku’ sampai ia ruku’. Apabila ia mengatakan sami’allahu liman hamidah’. Maka katakanlah ‘rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah, dan kalian jangan sujud sampai ia sujud.”

Mengapa hal ini harus diperhatikan? Karena ada ancaman dari Rasulullah saw dalam mendahului imam. Beliau saw memberikan ancaman sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘alaih bahwa orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam akan Allah rubah kepalanya menjadi kepala himar (keledai). Oleh karena itu sebaiknya kita perhatikan hal ini secara seksama.