16.jpgSebelumnya kita bahas tentang sifat pajak berdasarkan jenis. Sekarang kita bahas sifat pajak berdasarkan objek dan subjek pajak. Masih ingat sifat pajak itu ada berapa aja dan apa aja? Kalau masih lupa aku kasih ingat yah. sifat pajak itu dibagi ketiga bagian yaitu sifat pajak berdasarkan jenis, sifat pajak berdasarkan instansi pemungut objek dan subjek pajak. Sekarang kita lagi ada ditahap ketiga yaitu penjelasan sifat pajak berdasarkan instansi pemungut.

Sama dengan sifat pajak berdsarkan jenis yang akan kita bahas pada tulisan ini ada dua hal yaitu

  1. Pajak objektif
  2. Pajak subjektif

14.jpgMateri ini sebenarnya sering ketuker-tuker, mau itu diujian atau dilisan. Aku mau kasih tau cara gampang gimana caranya buat paham, ngerti sama inget materi ini. Caranya itu adalah kita harus tau apa artinya objektif dan apa itu subjektif. Kita bahas satu-satu yah.

  1. Pajak Objektif

Objektif itu artinya korban. Jika aku bilang Engkus membaca buku. Yang jadi objek itu apa? Buku kan. Jadi kita bisa tahu yang namanya objek itu benda. Kalau aku bilang Engkus membunuh Tatang. Yang jadi objek apa? Tatang kan. Dari sini kita bisa nyimpulin yang mamanya objek gak harus benda tapi bisa aja orang. Jadi bahasa gampangnya yang namanya objek itu korbannya atau tujuan atau objek. Ngerti lah yah kalau udah sampai sana. Sifat pajak berdasarkan instansi objek artinya pajak yang dipungut berdasarkan objeknya. Contohnya kaya bea materai. Materai itu kan pajak. Yang kena pajak bukan kita sebagai pembelinya tapi yang kena pajak itu materainya atau objeknya. Contoh lain pajak kendaraan bermotor. Pajak kendaraan bermotor ada karena kita memiliki kendaraan bermotornya, kalau kita gak punya kendaraan bermotor maka kita tidak akan dikenakan pajak. Jadi kendaraan bermotor itu sudah mengandung pajak didalamnya. Makanya pajak kendaraan bermotor itu contoh pajak objektif.

  1. Pajak subjektif

Kalau pajak subjektif ini pasti berhubungan sama subjeknya. Tadi udah dikasih tau apa itu objek dari kalimat-kalimat yang udah aku sebutin sebelumnya. Kalau kita tentuin dari kalimat sebelumnya siapa yang jadi subjek? Pasti yang jadi subjek Engkus kan karena dia yang melakukan. Kalau dilakukan untuk itu artinya objek. Nah sekarang kita liat penjelasan pajak berdasarkan subjektif yaitu pajak yang pengambilannya berdasarkan subjeknya. Contoh aja deh yah langsung, contohnya adalah pajak penghasilan. Kenapa pajak penghasilan? Karena pajak penghasilan ini ada karena ada yang nyari. Gaji kita dapat karena kita kerja kan. Nah kalau kita kerja kita kan sebagai subjeknya atau pencarinya, tidak akan pernah mungkin ada gaji kalau kita tidak mencari atau bekerja. Tidak akan pernah ada penghasilan kalau kita tidak mengusahakannya. Nah begitulah sifat pajak berdasarkan subjektif. Tidak banyak memang contoh pajak berdasarkan subjeknya karena yang namanya subjek dalam pajak pasti orang atau badan. Gak ada yang lain. Jadi kalau misalkan pajak berdasarkan subjek ya pasti berhubungan dengan subjeknya

Yang jadi subyek itu artinya pelaku yang melakukan sedangkan objek adalah yang dilakukan. Itu kesimpulannya. Semoga bisa dengan mudah dipahami.