sate.jpegBeberapa tulisan kali ini berkaitan dengan kelahiran anak karena saat ini ibadah yang paling dekat dengan aku berkaitan dengan anak. Ditanggal 18 November kemarin aku melakukan aqiqah. Mengapa aku aqiqah dihari ketujuh bisa dilihat ditulisan yang berjudul “Tentang Aqiqah…”. Ditulisan itu aku menjelaskan alasan aku memilih pendapat aqiqah itu adalah hari ketujuh. Ditulisan kali ini aku ingin berbagi tentang apakah daging aqiqah itu boleh dimasak atau tidak ketika dibagikan.

Tentu pembahasan ditulisan ini tidak menggunakan metode ilmiah karena aku hanya berbagi hal yang aku yakini. Banyak keterbatasan mengapa aku tidak menuliskan dalil-dalil dan berbagai macam argumen sampai akhirnya aku mengambil istinbath. Mungkin apabila ilmu aku sudah cukup aku akan sampai kesana tapi untuk saat ini aku memilih untuk memberikan argumen dengan bahasa yang berbeda.

Mungkin untuk sebagian orang daging aqiqah itu tidak peduli mau dimasak atau engga yang penting sudah dibagikan karena sebagian orang memilih untuk pergi ketempat aqiqah kemudian semuanya sudah beres dihari aqiqah baik itu mentahnya ataupun matangnya. Ini sebenarnya lebih simpel dan lebih ringkas namun berbeda kasusnya kalau kondisinya seperti aku. Kondisi dikeluarga istri adalah ingin mengurus domba aqiqah dari awal sampai akhir sendiri dan mereka ingin bukan cuman daging saja yang dibagi tapi ada nasi dan lauk lainnya. Masalah buat aku adalah aku sudah lupa saat itu apakah daging aqiqah itu boleh dimasak atau tidak…

satee.jpegKemudian karena semakin dekat hari aqiqah aku mencari tau lebih dalam lagi mengenai hal ini, aku pergi ke lab aku kemudian mencari-cari data yang aku ingin temukan kemudian aku mendapatkan dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama adalah boleh daging aqiqah dimasak karena pada esensinya daging aqiqah itu dibagikan. Sedangkan pendapat kedua adalah daging aqiqah itu kembali lagi hukum pembagiannya kepada zaman Rasulullah saw yakni membagikan mentah kepada para penerima.

Secara lingkungan sebenarnya lebih banyak keluarga yang berpendapat bahwa aqiqah itu harus dibagikan mentah dan tidak boleh matang dengan alasan-alasan tertentu. Namun aku memilih untuk dimasak dulu dengan alasan-alasan sebagai berikut,

  1. Yang menjadi kewajiban dalam aqiqah adalah menyembelih domba sebanyak dua untuk laki-laki dan satu untuk perempuan dihari aqiqah. Aku sudah melakukan ini diwaktu yang tepat yaitu hari ketujuh. Yang ini aman. Dikarenakan yang wajib adalah menyembelihnya maka dalam hal pembagiannya sebenarnya dikembalikan lagi kepada pemilik daging yang penting adalah tujuannya yaitu pembagian daging aqiqah. Jadi unsur menyembelih kurban dan memberikan kurban sudah terpenuhi.
  2. Memberikan daging yang sudah dimasak berarti memberikan kebahagiaan lebih bagi penerima karena kadang menurut pengalaman beberapa ibu-ibu jika mendapatkan daging aqiqah yang sedikit suka bingung mau diapain karena serba tanggung, tapi kalau daging aqiqahnya sudah masak kemudian ditambah nasi dan bebapa teman nasi lainnya membuat mereka lebih ringan jadi tinggal lep. Kalau dagingnya mentah paling mereka simpen di freezer sampai lupa dan pas inget dibuang karena terlalu lamanya disimpan. Dalam hal ini agar tidak mubazir daging aqiqah diimasak terlebih dahulu untuk manfaat lebih banyak.
  3. Keterangan dari ulama bahwa daging aqiqah boleh dimasak dahulu sebelum dibagikan asalkan yang dibagikan adalah daging aqiqah yang dipotong pada hari aqiqah.

Ini hanya sekedar ijtihad yang aku lakukan. Secara keilmuan tentu aku tidak terlalu pintar dalam hal ini hanya mencoba melakukan segala sesuatu memiliki alasan dan dasar untuk siap-siap ditanya nanti di yaumil akhir. Dalam hal ini aku melakukan ittiba’ kepada para ulama bukan taqlid sehingga mudah-mudahan apa yang aku usahakan  diterima oleh Allah swt. Aaamin .

Iklan