T. Djamaluddin bukanlah teman saya, bukan pula rekan kerja atau yang lainnya. T. Djamaluddin adalah guru saya dalam bidang Astronomi. Tetapi beliau mengajar saya tidak secara langsung atau bertatap muka, beliau mengajar saya lewat buku yang beliau tulis yang berjudul Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Khazanah Intelektual.

Menjelajah keluasan langit menembus kedalaman Al-Qur'an
Menjelajah keluasan langit menembus kedalaman Al-Qur'an
Pertama kali saya mengenal beliau adalah ketika saya mendengarkan radio Oz sekitar pukul 5.15 yang pada saat itu adalah acara Percikan Iman yang di asuh oleh Ust. Aam Amiruddin, M.si pemimpin redaksi dari Majalah Percikan Iman (Mapi). Saat itu saya sedang “suka-suka” nya dengan bidang astronomi dan segala hal yang berkaitan dengan perbintangan. Dan Ust. Aam membahas mengenai pertanyaan mengenai perbintangan yang ada di Al-Qur’an kemudian merekomendasikan untuk membaca buku yang berjudul Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Qur’an karya T. Djamaluddin.

T. Djamaluddin adalah seorang peneliti yang menjabat sebagai Kepala Pusat Sains Atmosfer dan Peneliti Utama Astronomi di LAPAN. Beliau lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962. Beliau merupakan anak dari Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah asal Cirebon.

Awalnya saya heran kenapa di buku yang saya baca tidak disebutkan secara lengkap nama T.Djamaluddin, kemudian saya baca bagian Biografi dibagian belakang buku dan saya berhasil mendapatkan jawabannya. Huruf ‘T’ didepan nama beliau adalah singkatan dari kata Thomas. Nama ini cukup bersejarah bagi beliau. Nama Thomas beliau dapatkan karena dulu beliau sering sakit-sakitan. Dalam tradisi Jawa jika anak sering sakit-sakitan maka dia harus berganti nama. Kemudian nama Thomas lah yang dipilih orang tuanya untuk mengganti namanya ketika berumur tiga tahun sampai dengan SMP. Sedangkan ketika masa SMA lebih suka di sebut dengan T.Djamaluddin.

T. Djamaluddin
T. Djamaluddin
Minat beliau pada astronomi diawali sejak SMA ketika beliau banyak membaca cerita tentang UFO sehingga beliau menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang melahirkan tulisannya yang pertama berjudul “UFO, Bagaimana menurut Agama” yang dimuat dimajalah ilmiah populer Sciante.

Masa mudanya dihabiskan di Cirebon. Pendidikan beliau dimulai di bangku Sekolah Dasar di SDN Kejaksan 1 kemudian melanjutkannya ke SMPN 1 Cirebon dan SMAN 2 Cirebon. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Cirebon T. Djamaluddin pergi ke Bandung untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Astronomi dan lululus pada tahun 1986. Karena merasa ilmu yang didapatkan di Bandung kurang cukup kemudian beliau pergi ke Jepang yang juga merupakan tugas beliau untuk mendapatkan kesempatan Belajar sekaligus program S2 dan S3 di Department of Astronomy, Kyoto University dengan beasiswa Monbusho pada tahun 1988-1994.

Kesibukannya antara lain adalah Seceratary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Associayions, Ketua Divisi Pembinaan Umat ICMI Orwil Kepang, ahli peneliti bidang matahari dan lingkungan antariksa LAPAN Bandung, anggota dari Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), anggota International Astronomical Union (IAU), anggota National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), dan anggota Badan Hisab Rukyat (BHR, Depag RI dan PTA Jabar).

Oh iya saya lupa belum memberi tahu mengenai isi buku yang membuat saya kagum dan memberikan inspirasi kepada saya. Di dalam buku Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Qur’an membahas mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan Astronomi seperti penciptaan alam semesta menurut Astronomi dan Al-Qur’an, posisi kita di alam semesta, kehidupan di luar angkasa dan lain-lain.

Yang membuat saya lebih kagum dengan buku ini adalah penulis selalu mengaitkan fenomena-fenomena alam yang ada sekarang ini dengan Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini adalah Al-Qur’an yang menjelaskan kepada kita mengenai Astronomi sangat detail. Bahkan membutuhkan waktu kurang lebih seribu lima ratus tahun untuk mengungkap sebagian kecil dari rahasia-rahasia sains yang berada dalam Al-Qur’an.

Sudah saatnya bagi umat muslim untuk minimalnya sama dengan beliau atau bahkan harus bisa lebih dari beliau agar umat Islam kembali menguasai peradaban. Ilmuwan-ilmuwan saat ini baik itu beragama Islam ataupun non islam ternyata membaca Al-Qur’an untuk mengungkap rahasia di balik kitab penuh mukzizat itu. Bagaimana dengan kita?