Disekolah saya belajar membuat cerita yang merupakan salah satu kesukaan saya meskipun saya tidak terlalu mahir bercerita, namun sungguh tidak disangka saya mendapatkan nilai yang paling besar diantara teman-teman yang berada dalam kelompok. Saya mendapatkan nilai 83 dari empat orang teman saya.hhhhee.

Dalam proses penulisan cerita ini saya dan teman-teman dikelas dibimbing dengan cara membayangkan suatu kondisi dimana ada seorang yang berada dihutan kemudian terperosok dan diserang oleh makhluk yang aneh. Tugas kita saat itu adalah melanjutkan cerita itu dengan kelanjutan cerita sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketika saya menulis cerita ini saya terinspirasi oleh film twilight yang bersetting dihutan belantara. Berikut adalah ceritanya:

Terpisah dari kelompok adalah hal yang sangat tidak menyenangkan, apalagi jika kita berada dihutan. Saat itu saya berada disebuah hutan yang tidak pernah dijamah oleh manusia. Hutan itu pun bahkan tidak memiliki nama.

Dengan keberanian saya mencoba untuk menyusuri hutan yang sangat rapat dengan tumbuhan dan pohon yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.

Sedikit demi sedikit saya mencoba untuk membuka jalan agar kedua telapak kaki saya yang bengkak bisa melewati hutan itu. Disekitar tidak nampak sma sekali cahaya. Mencoba untuk melihat ke atas, ke kiri, ke bawah, ke kanan sungguh tidak ada cahaya yang saya dapatkan. Saya berkesimpulan masih jauh perjalanan yang harus saya tempuh.

Dengan sangat hati-hati dan dibantu oleh sebatang tongkat yang telah dipatahkan dari salah satu ranting yang ada dipohon, saya berjalan ditemano oleh suara-suara binatang malam yangmembuat keberanan saya diuji.

Saya berhenti di sebuah pohon besar dan duduk bersandar di batangnya untuk beristirahat. Nampak dari belakang pohon ada sesosok makhluk yang mendekat. Suara-suara disekitar saya pun terdengar lebih keras dan hampir memekakkan telinga saya.

“Siapa disana?” Suara saya yang agak bergetar karena keberanian telah berganti menajdi ketakutan. Namun jawaban yang saya harapkan atas pertanyaan saya tidak pernah terdengar oleh telinga yang sudah sangat sakit.

Karena ketakutan, saya berlari menjauhi suara-suara yang semakin lama semakin mendekat. Malangnya nasib saya, suara yang hendak saya hindari semakin mendekat dan terus mendekat. Nampaknya hutan yang saya masuki tidak senang dengan kehadiran saya. Terasa sekali perasaan saya semakin takut sambil terus berlalri menjauhi suara yang mendekat.

Malam yang semakin larut membuat saya sudah tidak memperdulikan apa yang saya injak. Saya hanya berdoa dalam hati semoga saja yang saya injak dan saya pukul bukanlah hewan ganas ataupun makhlulk seram, keji dan buas lainnya. |Saya hanya berusaha berlari sekuat yang saya bisa berhapar pagi cepat datang.

Akar yang tidak bersahabat dengan saya membuat saya terjatuh dan terporosok. Malangnya nasib, saya bukan hanya terpersok melainkan jatuh kedalam lubang yang sangat dalam.

Saya masuk ke dalam lubang itu dan telihat oleh matasaya ada sebuah lorong yang tidak pernah ada kahirnya. Saya duduk sambil membersihkan pakaian dari debu yang menempel. Ketika saya sedang sedeang membersihkan debu dan kototan dalam tubuh saya, terlihat dan terasa oleh saya ada sesosok makhluk yang mendekat. Makhluk itu memiliki kuku yang sangat panjang, bermata besar dan merah, dan memilki tubuh yang sangat besar dan berotot. Di atas saya ada seekor burung namun memilki cakar sebesar kepala saya. Dan yang mrmbuat saya takut adalah masih banyak makhluk yang jauh lebih seram dan lebih kejam dibalakangnya.

Makhluk-makhluk itu mencoba untuk menyerang saya dengan kuku-kuku mereka, cakar-cakar mereka, kepala-kepala besar meraka. Sata berlalari dengan tenaga yang masih saya milki, namun keukuatan mereka ternyata jauh lebih besar dari yang saya miliki. Saya melempar batu yang berada disekitar saya kepada makhluk itu.

Didorongnya tubuh saya oleh kepala salah satu monster itu dan membuat saya jatuh terperosok. Semua makhluk yang aneg mulai mendatangi tubuh saya yang terkulai lemas dihiasi dengan memar-memar disikat jengkal tubuh saya.

Semakin mereka mendekat semakin keras detak jantung saya. Dalam hati saya hanya bisa berdoa agar mereka menjauh dari saya.

Beruntung bagi saya karena dalam saku saya ada benda yang bisa sedikitnya menjauhkan meraka. Benda itu adalah Pisau. Pisau yang berada ditangan saya gibaskan kepada tubuh kasar makhluk itu. Sebagian ada yang kena dan sebagian lainnya meleset.

Entah berapa jam saya bertarung menggunakan pisau yang sering saya abaikan. Dengan keyakinan penuh bisa mengalahkan mereka, makhluk menjijikkan yang menyakiti tubuh saya.

Pagi pun sudah mulai darang dengan cukup lambat bagi saya. saya bersyukur dalam hati karena mereka mulai menjauh karena terik matahari yang mulai lebih panas. Akhirnya mereka semua pun pergi meninggalkan saya yang terkulai lemas setelah bertemput