Profesor
Profesor
Kemarin pada saat saya akan posting mengenai buku “Membongkar Kesesatan Black Metal” saya cukup kesulitan mendapatkan gambar buku yang ingin saya beri komentar. Setelah saya mendapatkannya saya menemukan suatu judul artikel yang menarik bagi saya yaitu “Profesor dan Calon Dokter” yang ditulis oleh Irfan Toni Herlambang.

Artikel ini berisi mengenai cerita seorang profesor yang sedang mengajar dikelas yang mahasiswanya merupakan calon dokter. Cerita dalam artikel ini membuat saya kagum. Cerita yang ditulis oleh Irfan Herlambang ini sangat pendek namun memiliki hikmah yang sangat dalam. Hanya beberapa kata yang sebenarnya kecil namun bermakna dalam yang membuat saya terkagum-kagum. Untuk mengetahui kekaguman itu mari kita simak ceritanya berikut ini.

Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.
“Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sangprofesor. “Dan saya harap kalian
dapat membuktikannya.”

Bapak itu beranjak ke samping. “Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan
jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberaniandan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.

“Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalianingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antarajijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak
ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?”

Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.” Anak muda itu menuruni tangga, menuju
mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.

Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup
lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil.

Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping. “Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi
sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.”

***
Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.

Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian. Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat.

Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti,semua bisa jadi manis, menjadi
tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.

Teman, hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan..

Bagaimana menurut anda cerita ini?? Apakah anda merasakan hal yang sama seperti saya? Apapun perasaan anda ketika membaca cerita itu saya harap kita tidak mengacuhkan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita diatas.