garuda didadaku
garuda didadaku
Beberapa waktu yang lalu saya menonton film yang berjudul Garuda Di Dadaku disalah satu bioskop yang ada di Bandung. Saat ingin menonton film ini saya sempat gagal dua kali karena saya tidak mendapatkan tiket untuk nonton film ini. Setelah sekitar satu minggu dari penayangan awal saya akhirnya mendapatkan tiket dengan susah payah dan yang lebih membuat saya agak sedikit kesal adalah ketika saya masuk bioskop ternyata penuh sekali dan berisik dengan suara-suara penonton yang “norak”.

Film yang disutradari oleh Ifa Isfansyah ini ternyata cukup sukses di Indonesia ini. Dalam dua minggu film Garuda Di Dadaku ini sudah ditonton oleh 1 juta penonton. Sungguh angka yang cukup fantastis. Orang-orang penting di Indonesia pun ikut larut dengan kemeriahan film Garuda Di Dadaku. Berikut adalah komentar-komentarnya,

Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina)
“Saya melihat film ini menarik, menunjukkan determinasi anak muda yang bisa menjadi inspirasi untuk anak-anak muda Indonesia. Jadi komponen pendidikan juga sangat kuat disamping nuansa realita masyarakatnya terasa sekali. Saya melihat film ini dengan perspektif yang sangat positif”.

Prof. Dr. Bambang Sudibyo (Mendiknas Republik Indonesia)
“Tidak hanya menghibur tapi film ini juga mendidik. Ini adalah bukti bahwa dengan kreativitas yang baik dan tinggi, tema pendidikan bisa juga diangkat menjadi hiburan yang menarik, mencerahkan dan membuat rileks. Dan yang dididik dari film ini bukan hanya anak-anak tapi juga orangtua, termasuk juga kakeknya”.

Gumilar Sumantri (Rektor Universitas Indonesia)
“Film ini luar biasa, dari awal sampai akhir, bagaimana Garuda disematkan, cinta pada bola, cinta pada bangsa, membela nama baik bangsa negara, ini memang sesuatu hal yang mengharukan bagaimana refleksi pada bangsa dan negara itu ditanamkan”.

Kak Seto (Pemerhati Anak)
“Selain mengembangkan atau menumbuhkan patriotisme di kalangan anak-anak, film ini juga menghibur, lucu, haru, serta sarat pendidikan agar setiap anak-anak tetap bangga pada dirinya dan berani mengembangkan potensi unggul yang dimiliki masing-masing…”

Tema dari film ini adalah nasionalis dan film seperti ini jarang di buat oleh para sineas Indonesia. Untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme kita semua kita wajib untuk menonton film ini. Saya pun merasakan rasa nasionalisme saya lebih meningkat setelah menonton film yang bagus ini.

Garuda Di Dadaku bercerita tentang Bayu seorang anak kelas 6 SD yang memiliki impian yaitu ingin menjadi seorang pemain sepak bola
yang hebat. Impian Bayu itu mendapat dukungan dari sahabat Bayu bernama Heri. Dia penggila bola yang sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh Bayu dan dia ingin mewujudkan impian sahabatnya itu dengan membantu Bayu untuk seleksi masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional.

Bayu dengan kedua temannya
Bayu dengan kedua temannya
Impian Bayu itu terhalang dengan Pak Usman, kakek Bayu yang tidak senang cucunya memiliki cita-cita sebagai pemain bola. Menurutnya pemain bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Pak Usman memasukkan Bayu ke berbagai les agar Bayu nantinya menjadi orang yang sukses. Namun karena Bayu sangat ingin sekali menjadi pemain sepak bola Bayu berhasil dengan segala usahanya dan dibantu oleh teman-temannya.

Berbagai adegan yang mengundang tawa, keharuan dan kebanggaan menjadi pelengkap dalam film ini. Semua rasa bercampur aduk jika kita menonton film ini dengan memakai hatu nurani dan perasaan.

Tiada gading yang tak retak, bagitupun dengan film ini. Awal dari film ini mungkin membuat penonton agak “boring” dan tidak mengerti ceritanya. Dan penonton akan mulai “ngeh” kalau sudah sampai pada saat premis cerita atau ketika adegan sedih, lucu dan senang.

Jika adegan lucu disimpan pada awal cerita dari film ini pasti penonton akan penasaran dan mengikuti cerita dari film ini. Meskipun begitu film ini sudah cukup bagus. Semoga saja ada penerus dari film yang membangkitkan rasa cinta kepada negara Indonesia seperti film ini.